Teknik memotivasi diri untuk menjadi seorang Entrepreuner
Sesungguhnya embrio entrepreuner telah dimiliki oleh setiap dari diri kita sejak lahir, namun sayangnya seiring perjalanan waktu menuju ke kedewasaan tanpa disadari sebagian besar hambatan mental justru terjadi manakala kita mendapat penyeragaman pemikiran di sekolah (tempat dimana seseorang mendapat materi pembelajaran dan jawaban yang sama atas suatu permasalahan ).
Melalui penyeragaman pemikiran inilah seakan kreatifitas seseorang menjadi lumpuh dan terpasung. Pemikiran menjadi nyaris mengalami kesamaan persepsi menuju suatu pembenaran “ tunggal” yang akhirnya membatasi seseorang untuk dapat “Berfikir di luar Kotak “.
Sekolah telah mengajarkan untuk berfikir sama dalam wilayah area dan kesimpulan yang hampir mirip satu dengan lainnya, bahkan para pendidik disekolah telah begitu hafal diluar kepala tentang daftar suatu pertanyaan, berikut warna jawaban benar / salah. Diluar itu berarti “Tidak Benar” / “Menyimpang “ . Pendidikan di sekolah dari tahun ke tahun tidak mengalami banyak koreksi perubahan atas hasil kwalitas lulusan, analogi mengajarkan seseorang berenang, yang diajarkan hanya teknik renang di air tenang yang jernih, dan pada realitanya nanti media air jernih yang tenang ini bisa saja berubah menjadi kubangan lumpur yang pekat, genangan oli ,laut bebas dan medan-medan ekstrim lainnya ( dibutuhkan koreksi sistem pendidikan serius agar kita mampu menghasilkan kwalitas hasil kelulusan yang selalu mengikuti perkembangan zaman ( uptodate) ).
Pendidikan disekolah tidak mengajarkan atau setidaknya memberikan wacana bahwa suatu saat kelak akan terjadi hal-hal yang tidak dapat di duga sebelumnya ( unpredictable ), segalanya akan menjadi semakin berkembang dan mensiasati kehidupan semakin hari akan semakin sulit dan ketat dalam persaingan yang diakibatkan oleh semakin sempitnya area pergerakan yang dikarenakan adanya kenaikan populasi penduduk.
Tentu kita masih ingat nasehat orang tua atau guru-guru kita yang mengatakan “ Balajarlah yang rajin, untuk dapat menjadi seorang yang pintar, sehingga kelak akan dapat pekerjaan bagus dan penghasilan yang bagus pula, dan fenomena “harapan indah masa depan” inilah yang menjadikan sebagian besar hasil lulusan pendidikan sekolah terjebak dalam pemikiran tunggal bahwa tugas menyiapkan masa depan adalah Sekolah-Belajar-Lulus dan bekerja untuk dapat menafkahi hidup.
Belakangan terjadi banyak diantara hasil lulusan kita yang merasa bingung dan frustasi ketika harus memutuskan dan menetapkan apakah menunggu panggilan kerja atau apakah harus menjadi seorang entrepreuner ? karena keterdesakan seringkali mereka mencoba untuk memilih yang kedua, namun sayangnya hal itu dilakukan karena kompensasi pelarian dari pilihan pertama yang tidak terealisasikan.
Akibatnya persiapan mental yang dilakukanpun menjadi kurang greget ( setengah-setengah ), walau kesadaran ke arah sana kadang begitu sangat kuat dan menggebu, namun ketika dihadapi dengan kendala harus memulai dari mana?, banyak dari mereka yang gugur sebelum berperang dalam menghadapi phase awal memasuki dunia entrepreuner ini.
Sangat disayangkan bahwa banyak buku-buku dan motivator-motivator entrepreuner hebat yang kurang detail dan teliti dalam membahas Phase Kritis ini, arahan-arahan mereka memang sangat professional “Indah Didengar”, “Realistis”, “disampaikan dengan cara mengagumkan”, “Benar adanya”, “Sepertinya mudah dilaksanakan”, namun pada kenyataannya sebagian besar pengagum mereka gagal dalam pengaplikasian. Tendensi sebenarnya mudah diterka, karena mereka adalah sejatinya seorang Entrepreuner. Mirip yang terjadi pada dunia perbankan yang ramah dan sangat membantu kepada pengusaha yang telah menjadi pengusaha, karena latar belakang keuntungan yang tidak mereka dapatkan ketika mereka melayani calon pengusaha “Zero to Hero”yang jelas jelas tidak ber uang.
Cukupkan saja menerima penyeragaman pemikiran baru yang nantinya justru akan membuat kita kembali Set Back kebelakang. Bagaimanapun keunikan dan explorasi diri sendirilah yang sejatinya dapat melahirkan model gerakan-gerakan entrepreuner yang paling cocok bagi diri kita.
Kita adalah pribadi yang unik dan diri sendirilah yang sangat mengerti tentang bagaimana idealnya kita dapat membentuk diri menjadi seorang entrepreuner.
“ Usaha bisa ditiru, tetapi rejeki tidak bisa ditiru”, Entrepreuner terhebat sekalipun tidak akan pernah mampu memberikan nasehat teknis yang tepat sasaran, kecuali sebelumnya ia telah sangat mengetahui pribadi dan situasi kita secara presisi.
Tidak perduli apapun nantinya yang akan anda geluti dalam dunia entrepreuner, permasalahan yang paling krusial dari tahap awal dalam proses pembentukan jati diri seorang entrepreneur adalah bagaimana seseorang mampu merubah diri secara drastis dan revolusioner dari seorang yang hanya “ Sekedar Cakap Berharap “ menjadi pribadi yang “ Terampil Memberdayakan Ketiadaan”.
Berikut adalah beberapa tips masukan yang dapat digunakan untuk mempersiapkan diri menjadi seorang entrepreuner “ From Zero to Hero”.
Lakukan :
1. Tetapkan kebulatan bulat untuk memasuki dunia entrepreuner ini secara total / tidak setengah-tengah (lupakan panggilan kerja dari perusahaan yang paling Bonafid sekalipun), jika hal ini sudah menjadi pilihan maka lakukanlah dengan sepenuh waktu dan jangan dilakukan bersamaan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat mencari uang dari tempat lain seperti misalnya menjual tenaga dengan bekerja untuk mendapat upah / gaji atau mencari-cari pinjaman ke sana-sini, dsb ( dalam dunia entrepreuner satu rupiah pun sebuah nilai yang di hasilkan adalah sebuah prestasi, sepanjang itu dilakukan berdasarkan “ Keterampilan memberdayakan Ketiadaan yang positif ”)
2. Bidik dan tentukan sasaran satu jenis usaha yang akan ditekuni( usahakan hanya focus pada satu usaha diawal ) serta sesuaikan dengan kemampuan modal yang mungkin tergapai baik secara situasional dan pribadi ( tantangan bagi seorang Entrepreuner adalah “Melakukan sebelum Siap”) , jika kemampuan modal usaha kita misalnya hanya cukup untuk momodali usaha penjualan Cotton Buds(Korek Kuping) sekalipun yang beli:800 dan Jual:1.000, lakukanlah. Jangan lihat nilai X besar/kecilnya keuntungan, yang terpenting adalah artinya anda telah mampu memutar dan mengembalikan uang dengan nilai lebih, seberapa kecilpun kelebihannya itu tidak penting karena kelebihan nilai X inilah yang akan mengajarkan anda untuk mencari dan menemukan nilai X dan X lainnya yang nantinya akan menjadi semakin lebih besar seiring perkembangan jam terbang dan kemahiran anda dalam dunia Entrepreuner.
Evaluasi:
Jika untuk mengaplikasikan usaha pertama ini masih juga dirasakan sulit, coba tengoklah kembali pribadi dan mental kemandirian diri kita, karena di hampir kebanyakan kasus kegagalan ini terjadi dikarenakan seseorang telah begitu terikat dan memiliki rasa nyaman pribadi yang berlebihan dari lingkungan, sehingga hal ini membuatnya menjadi kurang memiliki mental Fight (bertempur).Verifikasi:
Koreksi atas hasil evaluasi adalah mensiasatinya dengan cara melakukan upaya melepaskan atau meninggalkan seluruh fasilitas yang dimiliki. Tekanan ketiadaan rasa nyaman ini akan memaksa kita berfikir dan bekerja keras untuk sesegera mungkin menemukan awal dari rencana gerakan sebagai seorang entrepreuner dan jawaban atas apa yang harus dilakukan ini nantinya akan memaksa diri kita untuk segera memulai “from Zero to Hero”.Pernahkah anda mendengar cerita seorang yang mampu berlari sedemikian cepatnya dan mampu melompati pagar yang tingginya hampir 3 Meter karena ia berusaha menghindar dari seekor anjing besar yang seakan mengejar dan ingin menggigitnya padahal anjing itu tidak melakukan upaya apapun, dan sepertinya hal itu mustahil terjadi pada diri seseorang yang sesungguhnya lumpuh setengah badan. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa jika kita mau mensiasati, didalam diri kitapun sesungguhnya ada “Daya Ungkit” luar biasa yang dapat kita gunakan agar kita mampu menjawab dan menemukan atas apa yang kita butuhkan.
Dengan panduan sederhana ini diharapkan ada ketermanfaatan yang dapat diambil hikmahnya, dapat mengurangi tingkat pengangguran terselubung secara nasional serta mampu merangsang lahirnya entrepreuner-entrepreuner baru yang masih teramat banyak dibutuhkan dan ditunggu kehadirannya untuk bahu membahu mempercepat pembangunan kemajuan Indonesia kita tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar